Minggu, 24 Februari 2019

Sebaran Kartu Indonesia Pintar di Bengkulu

Hingga bulan Januari 2019 ini, tercatat sudah lebih dua belas ribu siswa di Provinsi Bengkulu mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah melalui Program Indonesia Pintar. Para siswa itu berada di jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Bantuan pendidikan itu diberikan sebagai upaya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan di Provinsi Bengkulu.

Program Indonesia Pintar merupakan bagian dari program wajib belajar dua belas tahun Pemerintah Indonesia saat ini. Dengan program ini, pemerintah menjamin setiap anak usia sekolah mendapatkan pendidikan sampai tamat sekolah menengah atas. Program prioritas pemerintah ini bertujuan membantu anak usia 6 sampai 21 tahun dari keluarga miskin untuk memperoleh pendidikan yang layak. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, meminta program ini diterapkan dengan serius, tepat sasaran, dan cepat penyalurannya.

Namun, sejak dimulai program tersebut pada 2016 hingga kini, masih banyak kendala yang dialami dalam penyalurannya. Di antaranya masalah pengiriman Kartu Indonesia Pintar. Pihak jasa pengiriman tidak mengantarkan kartu-kartu tersebut ke masing-masing alamat penerima, melainkan hanya didrop di kantor kecamatan atau kelurahan/desa. Masalah infrastruktur yang kurang baik dituding menjadi penyebabnya.

Selain itu, masalah Data Pokok Pendidikan yang kurang sesuai atau masih salah memasukkan data menyebabkan siswa belum bisa mencairkan dana bantuan. Ada lagi orang tua yang merasa proses pencairan dana bantuan terlalu rumit dan memakan biaya karena bank yang ditunjuk terlalu jauh dari desanya sehingga dirasa percuma mencairkan dana tersebut. Untuk masalah itu, dinas-dinas pendidikan di setiap daerah diharapkan mencari pemecahannya agar dana tersebut bisa cepat dicairkan.

Program Indonesia Pintar menyalurkan dana sebesar Rp1.000.000 untuk siswa SMA/SMK/Paket C, Rp750.000 untuk siswa SMP/Paket B, dan Rp450.000 untuk siswa SD/Paket A. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong, T Samudji, mengatakan dana yang diberikan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat di daerah-daerah. Namun, hendaknya, menurut Bupati Rejang Lebong, Ahmad Hijazi, orang tua tidak berlepas tangan dalam pendidikan anak. Orang tua masih perlu memberikan bimbingan dan pendidikan yang baik kepada anaknya di rumah.

Sangat Terbantu
Meski angka penyerapan dana bantuan ini masih kurang baik, para siswa yang telah mencairkan dana ini merasa sangat terbantu. Asih Handayani misalnya. Siswa SMA Negeri 1 Kabupaten Seluma itu mengatakan sangat senang dan bahagia setelah mendapat dana dari pemerintah itu. Kebutuhan penunjang pendidikannya, seperti buku-buku, tas, sepatu, dan seragam sekolah, bisa terpenuhi. Asih yang terlahir dari keluarga petani ini berharap pemerintah terus memperhatikan keluarga miskin yang lain agar semua anak bisa merasakan pendidikan dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Siswa pendidikan Kesetaraan Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Setela Asia Tika, Sulendra Ega Pratama, juga menuturkan hal yang sama. Ia mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada pemerintah atas bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar.

Meski telah belasan ribu anak Bengkulu yang mendapat bantuan dari Program Indonesia Pintar, masih banyak juga siswa yang belum terakomodasi. Untuk itu, perlu jalur lain selain dari dinas pendidikan daerah untuk mendistribusikan bantuan. Salah satunya dari anggota legislatif pusat yang memiliki jalur khusus. Dari jalur ini, telah ada 17.000-an siswa lain yang juga mendapatkan dana bantuan. Pihak sekolah sangat mengapresiasi upaya anggota legislatif tersebut. Begitu pun sebaliknya. Anggota Komisi X DPR RI berupaya memperjuangkan penambahan siswa yang menerima Program Indonesia Pintar, juga pembangunan sarana dan prasarana sekolah, termasuk perpustakaan.

Mengenal Dewi Coryati

Dewi Coryati merupakan calon anggota legislatif yang berasal dari Partai PAN dengan daerah pemilihan Bengkulu. Wanita yang lahir di Jakarta, 9 Agustus 1964 ini mempunyai latar belakang pendidikan yang sangat baik. Beliau menamatkan sekolah menengah atas, di SMA 5 Bandung pada tahun 1983, ia juga alumnus Jurusan Kesehatan Hewan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1988.

Beliau lalu melanjutkan pendidikannya untuk menjadi dokter hewan di Institut Pertanian Bogor dan lulus tahun 1989. Dewi Coryati melanjutkan pendidikan S-2nya di Universitas Indonesia dengan Jurusan Ilmu Politik, lulus pada tahun 2005. Ia juga melanjutkan pendidikannya pada program Doktoral Ilmu Politik Universitas Indonesia pada tahun 2010.
Dengan latar belakang pendidikan yang sangat baik, Dewi Coryati memulai karir politiknya dengan menjadi kader PAN pada tahun 2000, ia juga menjadi Anggota Badan Pemberdayaan Perempuan DPP PAN 2000-2005. Pada tahun 2004-2006 Dewi menjadi Tenaga Ahli Fraksi PAN di DPR.

Tahun 2009 Dewi mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif dari Partai PAN dengan daerah pemilihan Bengkulu. Pada kali pertamanya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, Dewi terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2009-2014 dan menduduki komisis VIII yang mengurusi anggaran dan urusan rumah tangga.

Dan pada kesempatan pemilu 2019, beliau kembali mencalonkan diri menjadi Caleg dari PAN No.urut 2 di Dapil Bengkulu. Fokus beliau di dunia pendidikan, ekonomi kreatif dan pariwisata. Tentunya ketiga hal tersebut beliau fokuskan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat Bengkulu. Mendapatkan amanah menjabat selama 2x menjadikan beliau semakin fokus dan bersemangat untuk menjadi wakil Bengkulu. Pengalaman beliau menjadi jembatan aneka program pemerintah pusat ke daerah menjadikan beliau semakin yakin bahwa beliau harus terus bekerja untuk kemajuan Bengkulu.


Senin, 07 Oktober 2013

Surat Suara Untuk Simulasi Pemilu


Ini surat suara yang tim DCC gunakan dalam simulasi pemilu dalam Workshop Pengenalan Parlemen Untuk Pemula. Kalau kamu jadi peserta pemilunya, pilih siapa? Ayo jujur saja. Dalam teori komunikasi, 10 detik pertama, katanya menentukan. Nah, kalau melihat surat suara di atas. Pilih mana? Pilih yang good looking? Kalau pemilihnya pakai teori itu, pasti banyak yang minta difoto ulang.

Nah, memilih wakil kita di parlemen, tentu tak sama seperti memilih Indonesian Idol. Masa depan kita, ditentukan oleh mereka yang punya integritas, komitmen, kapasitas, dan visi. Maka semestinya pada merekalah harapan itu kita sematkan. Kalau berdasarkan kecantikan? Wah, beautiful only skin deep, bahasa Kaurnya. :)

Yuk, kenali track record wakil kita. Siapa dia, dari mana asalnya, apa kiprahnya selama ini di daerah kita. Sso, jangan beli kucing dalam karung. 



Kab. Kaur; Baju Satu Kering Di Badan :)

Maksudnya? Pasti itu yang terlintas di benakmu kan? Kalau ada yang berpikir, "... Seperti lagu dangdut", artinya mereka lahir di tahun 1970 atau 80-an, lah, jadi udah bukan pemuda. Tapi its ok, yang penting semangatnya pak. :) 

Baju Satu Kering Di Badan

Hari itu, 29 September 2013 di Kab Kaur. Hujan deras datang menemani pagi. Saya pun sempat ragu, dengan kondisi demikian, mungkinkah peserta akan datang? "Sudah jauh, hujan pula," pikir saya. Hmm, hujan kan ketetapan Tuhan. Dalam Al-Qur'an pun hujan selalu diidentikkan dengan keberkahan. Jadi, saya hanya bisa bersabar sembari berdoa dan berharap.

Tak disangka, satu, dua, empat, sepuluh, dan seterusnya hingga 100 orang lebih berdatangan dengan baju basah. Inilah generasi yang tak ingkar janji. Mereka tetap berjuang meski berbasah-basah ria. Bahkan ada salah seorang peserta yang terjatuh dari motor karena jalanan licin. Saya bahagia dan bangga.  Meski dengan pakaian basah, mereka tetap antusias mengikuti workshop. Ya, baju satu kering di badan. Nah, sudah pahamkan, kenapa judulnya seperti di atas. :)







Bengkulu Selatan; Sejarah I, Surat Suara

Ini pelatihan ke-3, setelah dua pelatihan sebelumnya di Kota Bengkulu. Kali ini, kami menggunakan Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkulu Selatan, sebuah tempat yang terbilang sederhana. Sebenarnya, jika dipelihara dengan baik, tempat ini bisa bernilai rupiah yang tinggi, jika disewakan. Tapi sudahlah, itu satu soal. Saya hanya berdoa serius, "Semoga tak hujan," Kini, tantangannya bagaimana menyulap kesederhanaan ini menjadi momentum yang memewahkan. Ya, mewah karena kesan yang mendalam.

Happy instrumental menyambut kedatangan satu per satu siswa SMA di Bengkulu Selatan. Sesi dimulai, tak banyak respon dari mereka. Wah, apa bahasanya terlalu tinggi ya? Hmm, ternyata hanya soal waktu. Pada saat sesi simulasi, ternyata antusian dan kreativitas siswa di sini tak kalah dengan mahasiswa di Kota Bengkulu. Alhamdulillah

Di Pelatihan inilah, kertas suara pemilihan, pertama kali kami gunakan. Sebuah ide spontan, yang hadir dengan H2C (Harap-harap cemas), karena printernya lamban. Tapi akhirnya semua bisa teratasi. Sesi pengnalan pemilu ini dijamin lebih Ok, dari sosialisasi ala KPU sekalipun. Kami mensimulasikan bukan soal teknis semata, tetapi strategi. "Anak-anakku, coba lihat siapa yang menang? Ini pelajaran. Biasanya di satu keluarga, kita berbagi dukungan untuk beberapa calon, supaya adil. Dampaknya, tak satupun terpilih. Seperti simulasi ini, yang menang adalah yang mendapat dukungan penuh dari kelompoknya plus dukungan dari orang-orang dari kelompok lain." Dengan dukungan yang terfokus, lebih memungkinkan untuk menghasilkan terpilihnya wakil yang kita inginkan.  Tentu, yang berintegritas, berkomitmen, dan berkapasitas.  










 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code