Selasa, 14 Mei 2019

Dewi Coryati Terpilih Kembali


Bengkulutoday.com - Empat nama DPR RI terpilih telah diketahui dari hasil pleno KPU Provinsi Bengkulu Jumat 10 Mei 2019 lalu. Adapun hasil pleno itu, PDIP, Golkar, Gerindra dan PAN berhasil mengirimkan wakilnya ke senayan, DPR RI.

Dari empat kursi DPR RI dapil Provinsi Bengkulu, 3 diantaranya adalah wajah incumbent, yakni ELva Hartati (PDIP), Susi Marleny Bachsin (Gerindra) dan Dewi Coryati (PAN), sedangkan wajah baru adalah Mohammad Saleh (Golkar).

"Rapat pleno telah selesai, kita akan laporkan ke KPU Pusat terlebih dahulu," kata Eko Sugianto, Komisioner KPU Provinsi Bengkulu.
Elva Hartati, Susi Marleni Bachsin dan Dewi Coryati sebelumnya telah duduk di kursi DPR RI hasil pemilu 2014. Pada pemilu 2019, ketiganya kembali maju lagi dan terpilih. Sementara satu incumbent lagi, yakni Anarulita Muchtar dari Partai Nasdem maju lagi namun tidak terpilih.

Berikut perolehan suara individu caleg DPR RI terpilih:

1. Elva Hartati (PDIP): 44.711
2. Mohammad Soleh (Golkar): 66.536
3. Susi Marleny Bachsin (Gerindra): 33.123
4. Dewi Coryati (PAN): 54.830

Peringkat 4 besar parpol di dapil Provinsi Bengkulu:
1. PDIP : 136.023
2. Golkar : 135.730
2. Gerindra : 130.050
4. PAN : 120.586

Minggu, 24 Februari 2019

Kegiatan di Desa Pasar Pedati Bengkulu

Hj. Dewi Coryati, M.Si, seorang politisi  PAN yang juga anggota Komisi X DPR RI, menyerahkan Bantuan zakatnya berupa sembako, kepada fakir miskin yang ada di Desa Pasar Pedati, Bengkulu Tengah, Jum’at (05/01). Selain memberikan bantuan sembako, Dewi Coryati pun turut mensosialisasikan program kerjanya, khususnya Program Indonesia Pintar (PIP), kepada para peserta yang hadir.

Program ini sendiri merupakan program yang diperjuangkannya, khusus bagi anggota Komisi X DPR RI, kuota bantuan ini pun berbeda dengan bantuan alokasi dari OPD Teknis, yakni Kementrian Pendidikan.
“Ini adalah program yang berhasil kami perjuangkan dari Komisi X kepada Kemendikbud RI. Karena itu, PIP ini anggarannya diluar alokasi OPD teknis,” kata Dewi Coryati.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat yang kurang mampu, namun tidak mendapatkan bantuan dari sekolahnya, baik dari tingkat SD, SMP, hingga SMA, untuk dipersilahkan menghubungi dirinya agar diusulkan mendapatkan program bantuan ini.
Dewi Coryati, Berfoto Bersama Masyarakat
Sementara itu, pemberian sembako kepada fakir miskin ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Hj. Dewi Coryati. Dengan uang pribadinya, hampir setiap minggu ia selalu menyempatkan memberikan bantuan sembako ini. Lokasi pemberianpun diigilir secara rutin, kepada simpatisannya di seluruh Kabupaten Kota Se Provinsi Bengkulu.
“Ini merupakan zakat saya, jangan di lihat besaran dan isinya. Namun ini merupakan niat baik saya untuk menyalurkan sedikit rezeki. Saya pun meminta doa dari bapak ibu sekalian, agar diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat terus mengabdi sebagai anggota DPR RI Komisi X” pinta Dewi.
Kendati sederhana, masyarakat pun sangat berterima kasih atas bantuan sembako ini. Merekapun berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin, minimal 1 tahun sekali.
“Alhamdulilah, terima kasih kepada Ibu dewi Coryati atas bantuannya. Semoga Allah membalas kebaikan Ibu” Ujar Rita, salah satu penerima bantuan sembako.

Kerja Nyata Dewi Coryati Tahun 2013

Calon legislatif dari Partai Amanat Nasional, Dewi Coryati, adalah dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor. Perhatiannya yang besar pada bidang pertanian, perikanan, dan pendidikan membuatnya giat memperjuangakan bantuan dana bagi kelompok-kelompok tani dan lembaga pendidikan anak usia dini.

Pada tahun 2013, Dewi telah memperjuangkan program dan bantuan pemerintah senilai lebih dari Rp70miliaran untuk pembiayaan pertanian, perikanan, dan pendidikan di Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kaur, Kepahiang, Lebong, Mukomuko, Rejanglebong, Seluma, dan Kota Bengkulu.

Kabupaten Bengkulu Selatan
Di kabupaten ini, Dewi berhasil menyalurkan dua program dana bantuan pendidikan, khususnya untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), senilai Rp130 jutaan. Pertama adalah bantuan dana PAUD Rintisan dengan nilai Rp45 jutaan per PAUD untuk dua PAUD. Kedua adalah bantuan pendampingan PAUD dengan jumlah Rp50 jutaan untuk dua PAUD.

Untuk bidang pertanian, di kabupaten yang sama, Dewi telah memperjuangkan bantuan lebih dari Rp4 miliaran untuk 45 lembaga dan kelompok tani. Pertama, Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) senilai Rp1,7 miliaran untuk 17 kelompok tani. Kedua, Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) untuk Kelompok Wanita Tani (KWT) senilai Rp150 jutaan. Ketiga, bantuan handtractor serta pompa air bagi 14 kelompok tani senilai lebih Rp225 jutaan. Keempat, bantuan irigasi untuk sepuluh desa senilai Rp1,8 miliaran. Kelima, bantuan Pengembangan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) senilai Rp200 jutaan. Keenam, Bantuan Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat (LM3).

Bantuan budi daya ikan air tawar bagi empat kelompok nelayan senilai Rp260 jutaan, Pengembangan Usaha Mina Perdesaan Perikanan (PUMP) tangkap senilai Rp200 jutaan, serta Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) untuk enam desa senilai Rp1,5 miliaran berhasil disalurkan Dewi di Kabupaten Bengkulu Selatan.

Kabupaten Bengkulu Tengah
Di sini, Dewi memperjuangkan program bantuan dan dana lebih dari Rp12 miliaran untuk bidang pertanian dan perikanan. Pertama, bantuan PUAP bagi 13 kelompok tani senilai Rp1,3 miliaran. Kedua, bantuan handtractor dan pompa air untuk 30 kelompok tani senilai lebih Rp650 jutaan. Ketiga, bantuan dana irigasi untuk 14 desa senilai Rp2,52 miliaran. Keempat, bantuan UPPO untuk satu kelompok tani senilai Rp200 jutaan. Kelima, bantuan budi daya ikan air tawar bagi 16 kelompok senilai Rp1,04 miliar. Keenam, bantuan Pengolahan dan Pengembangan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) untuk lima kelompok senilai Rp250 jutaan. Ketujuh, bantuan PUMP tangkap bagi tiga kelompok senilai Rp300 jutaan. Kedelapan, bantuan PPIP untuk 24 desa senilai Rp6 miliaran.

Kabupaten Bengkulu Utara
Di kabupaten ini, Dewi memperjuangkan lima bantuan program untuk masyarakat senilai lebih kurang Rp10 miliaran. Pertama, program PUAP untuk 11 kelompok tani senilai Rp1,1 miliaran. Kedua, bantuan irigasi bagi 15 desa senilai Rp2,7 miliaran. Ketiga, bantuan UPPO untuk satu kelompok tani senilai Rp200 jutaan. Keempat, program PUMP tangkap untuk lima kelompok senilai Rp500 jutaan. Kelima, bantuan PPIP untuk 21 desa senilai Rp5,250 miliaran.

kerja nyata di kaur (2013)
Kabupaten Kaur
Di Kabupaten Kaur, Dewi berhasil menyalurkan bantuan dan dana pendidikan, pertanian, dan perikanan senilai lebih kurang Rp8 miliaran. Untuk pendidikan, ada bantuan operasional PAUD senilai Rp7,2 jutaan dan bantuan alat peraga edukatif PAUD senilai Rp20 jutaan untuk dua PAUD.
 
Di bidang pertanian dan perikanan, sekitar Rp12 miliaran dana bantuan telah disalurkan. Pertama, bantuan PUAP untuk 16 kelompok tani senilai Rp1,6 miliaran. Kedua, bantuan P2KP untuk empat kelompok wanita tani senilai Rp200 jutaan. Ketiga, bantuan handtractor untuk 29 kelompok tani senilai Rp725 jutaan. Keempat, bantuan irigasi untuk sepuluh desa senilai Rp1,8 miliaran. Kelima, bantuan LM3 untuk dua lembaga. Kelima, bantuan budi daya ikan air tawar untuk 15 kelompok senilai Rp975 jutaan. Keenam, bantuan P2HP untuk tujuh kelompok senilai Rp350 jutaan. Ketujuh, bantuan alat tangkap untuk lima kelompok senilai Rp50 jutaan. Kedelapan, bantuan PPIP untuk 15 desa senilai Rp3,75 miliaran.
Kepahiang
 
Di Kabupaten Kepahiang, sejumlah bantuan di bidang pertanian dan peternakan telah disalurkan. Pertama, program P2KP untuk dua kelompok wanita tani senilai Rp100 jutaan. Kedua, bantuan handtractor dan pompa air untuk sembilan kelompok tani senilai lebih Rp125 jutaan. Ketiga, bantuan irigasi untuk 14 desa senilai Rp2,52 miliaran. Keempat, bantuan PPIP bagi tujuh desa senilai Rp3,75 miliaran.

Lebong
Di Kabupaten Lebong, masyarakat desa sudah mendapat kucuran dana bantuan untuk sejumlah program. Di bidang pendidikan, pertama, ada bantuan operasional PAUD senilai Rp7,2 jutaan. Kedua, bantuan alat peraga edukatif PAUD untuk dua PAUD senilai Rp20 jutaan.
Di bidang pertanian dan perikanan, lebih Rp7 miliaran dana pemerintah mengalir untuk masyarakat Kabupaten Lebong. Pertama, dana P2KP untuk satu kelompok wanita tani senilai Rp50 jutaan. Kedua, bantuan irigasi untuk sepuluh desa senilai R2,52 miliaran. Ketiga, dana PPIP untuk 21 desa senilai Rp5,25 miliaran.

Mukomuko
Di Kabupaten Mukomuko, lebih Rp10 miliaran dana bantuan dari pemerintah sudah diberikan kepada masyarakat untuk bidang pertanian dan perikanan. Pertama, bantuan PUAP bagi dua kelompok tani senilai Rp200 jutaan. Kedua, bantuan P2KP untuk tiga kelompok wanita tani senilai Rp150 jutaan. Ketiga, bantuan irigasi untuk sepuluh desa senilai Rp2,52 miliaran. Keempat, bantuan PPIP untuk delapan desa senilai Rp5,25 miliaran.

Rejanglebong
Di Kabupaten Rejanglebong, dana pemerintah juga mengalir untuk bidang pertanian dan perikanan. Pertama, dana PUAP untuk satu kelompok tani senilai Rp100 jutaan. Kedua, dana P2KP untuk satu kelompok wanita tani senilai Rp50 jutaan. Ketiga, bantuan irigasi untuk 11 desa senilai total Rp1,98 miliaran. Keempat, dana LM3 untuk satu lembaga yang nilainya belum diketahui. Kelima, bantuan PPIP untuk delapan desa senilai Rp5,25 miliaran.

Seluma
Di Kabupaten Seluma, lebih Rp8 miliaran dana mengalir kepada masyarakat untuk bidang pendidikan, pertanian, dan perikanan. Di bidang pendidikan, telah disalurkan bantuan operasional PAUD senilai Rp7,2 jutaan untuk lima PAUD. Besaran nilai tersebut tidak sama untuk setiap PAUD, bergantung pada jumlah peserta didik.

Di bidang pertanian dan perikanan, ada bantuan program PUAP untuk dua kelompok tani senilai Rp200 jutaan. Kedua, dana P2KP untuk dua kelompok wanita tani senilai Rp100 jutaan. Ketiga, bantuan handtractor dan pompa air untuk enam kelompok tani senilai lebih Rp125 jutaan. Keempat, bantuan irigasi untuk 12 desa senilai Rp2,16 miliaran. Kelima, bantuan UPPO untuk satu kelompok tani senilai Rp200 jutaan. Keenam, bantuan budi daya ikan air tawar untuk empat kelompok senilai Rp260 jutaan. Ketujuh, bantuan PUMP tangkap untuk dua kelompok senilai Rp200 jutaan. Kedelapan, bantuan PPIP untuk delapan desa senilai Rp5,250 miliaran.

Kota Bengkulu
Di Kota Bengkulu, lebih dari Rp3 miliaran dana bantuan pemerintah telah disalurkan untuk bidang pendidikan, pertanian, dan perikanan. Di bidang pendidikan, ada dana bantuan operasional PAUD senilai Rp7,2 jutaan untuk 30 PAUD. Kedua, dana alat peraga edukatif PAUD untuk dua PAUD senilai Rp20 jutaan. Ketiga, bantuan dana PAUD rintisan untuk dua PAUD senilai Rp90 jutaan. Keempat, bantuan pendampingan PAUD untuk dua PAUD senilai Rp50 jutaan. Kelima, bantuan penguatan PAUD untuk dua PAUD senilai Rp25 jutaan.

Di bidang pertanian dan perikanan, sekitar Rp1,5 miliaran dana pemerintah telah disalurkan untuk program-program berikut. Pertama, PUAP untuk sembilan kelompok tani senilai Rp900 jutaan. Kedua, dana P2KP untuk dua kelompok wanita tani senilai Rp100 juta. Ketiga, dana P2HP untuk tiga kelompok senilai Rp150 jutaan. Keempat, dana PUMP tangkap untuk tiga kelompok senilai Rp300 jutaan.

Sebaran Kartu Indonesia Pintar di Bengkulu

Hingga bulan Januari 2019 ini, tercatat sudah lebih dua belas ribu siswa di Provinsi Bengkulu mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah melalui Program Indonesia Pintar. Para siswa itu berada di jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Bantuan pendidikan itu diberikan sebagai upaya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan di Provinsi Bengkulu.

Program Indonesia Pintar merupakan bagian dari program wajib belajar dua belas tahun Pemerintah Indonesia saat ini. Dengan program ini, pemerintah menjamin setiap anak usia sekolah mendapatkan pendidikan sampai tamat sekolah menengah atas. Program prioritas pemerintah ini bertujuan membantu anak usia 6 sampai 21 tahun dari keluarga miskin untuk memperoleh pendidikan yang layak. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, meminta program ini diterapkan dengan serius, tepat sasaran, dan cepat penyalurannya.

Namun, sejak dimulai program tersebut pada 2016 hingga kini, masih banyak kendala yang dialami dalam penyalurannya. Di antaranya masalah pengiriman Kartu Indonesia Pintar. Pihak jasa pengiriman tidak mengantarkan kartu-kartu tersebut ke masing-masing alamat penerima, melainkan hanya didrop di kantor kecamatan atau kelurahan/desa. Masalah infrastruktur yang kurang baik dituding menjadi penyebabnya.

Selain itu, masalah Data Pokok Pendidikan yang kurang sesuai atau masih salah memasukkan data menyebabkan siswa belum bisa mencairkan dana bantuan. Ada lagi orang tua yang merasa proses pencairan dana bantuan terlalu rumit dan memakan biaya karena bank yang ditunjuk terlalu jauh dari desanya sehingga dirasa percuma mencairkan dana tersebut. Untuk masalah itu, dinas-dinas pendidikan di setiap daerah diharapkan mencari pemecahannya agar dana tersebut bisa cepat dicairkan.

Program Indonesia Pintar menyalurkan dana sebesar Rp1.000.000 untuk siswa SMA/SMK/Paket C, Rp750.000 untuk siswa SMP/Paket B, dan Rp450.000 untuk siswa SD/Paket A. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong, T Samudji, mengatakan dana yang diberikan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat di daerah-daerah. Namun, hendaknya, menurut Bupati Rejang Lebong, Ahmad Hijazi, orang tua tidak berlepas tangan dalam pendidikan anak. Orang tua masih perlu memberikan bimbingan dan pendidikan yang baik kepada anaknya di rumah.

Sangat Terbantu
Meski angka penyerapan dana bantuan ini masih kurang baik, para siswa yang telah mencairkan dana ini merasa sangat terbantu. Asih Handayani misalnya. Siswa SMA Negeri 1 Kabupaten Seluma itu mengatakan sangat senang dan bahagia setelah mendapat dana dari pemerintah itu. Kebutuhan penunjang pendidikannya, seperti buku-buku, tas, sepatu, dan seragam sekolah, bisa terpenuhi. Asih yang terlahir dari keluarga petani ini berharap pemerintah terus memperhatikan keluarga miskin yang lain agar semua anak bisa merasakan pendidikan dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Siswa pendidikan Kesetaraan Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Setela Asia Tika, Sulendra Ega Pratama, juga menuturkan hal yang sama. Ia mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada pemerintah atas bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar.

Meski telah belasan ribu anak Bengkulu yang mendapat bantuan dari Program Indonesia Pintar, masih banyak juga siswa yang belum terakomodasi. Untuk itu, perlu jalur lain selain dari dinas pendidikan daerah untuk mendistribusikan bantuan. Salah satunya dari anggota legislatif pusat yang memiliki jalur khusus. Dari jalur ini, telah ada 17.000-an siswa lain yang juga mendapatkan dana bantuan. Pihak sekolah sangat mengapresiasi upaya anggota legislatif tersebut. Begitu pun sebaliknya. Anggota Komisi X DPR RI berupaya memperjuangkan penambahan siswa yang menerima Program Indonesia Pintar, juga pembangunan sarana dan prasarana sekolah, termasuk perpustakaan.

Mengenal Dewi Coryati

Dewi Coryati merupakan calon anggota legislatif yang berasal dari Partai PAN dengan daerah pemilihan Bengkulu. Wanita yang lahir di Jakarta, 9 Agustus 1964 ini mempunyai latar belakang pendidikan yang sangat baik. Beliau menamatkan sekolah menengah atas, di SMA 5 Bandung pada tahun 1983, ia juga alumnus Jurusan Kesehatan Hewan Institut Pertanian Bogor pada tahun 1988.

Beliau lalu melanjutkan pendidikannya untuk menjadi dokter hewan di Institut Pertanian Bogor dan lulus tahun 1989. Dewi Coryati melanjutkan pendidikan S-2nya di Universitas Indonesia dengan Jurusan Ilmu Politik, lulus pada tahun 2005. Ia juga melanjutkan pendidikannya pada program Doktoral Ilmu Politik Universitas Indonesia pada tahun 2010.
Dengan latar belakang pendidikan yang sangat baik, Dewi Coryati memulai karir politiknya dengan menjadi kader PAN pada tahun 2000, ia juga menjadi Anggota Badan Pemberdayaan Perempuan DPP PAN 2000-2005. Pada tahun 2004-2006 Dewi menjadi Tenaga Ahli Fraksi PAN di DPR.

Tahun 2009 Dewi mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif dari Partai PAN dengan daerah pemilihan Bengkulu. Pada kali pertamanya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, Dewi terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2009-2014 dan menduduki komisis VIII yang mengurusi anggaran dan urusan rumah tangga.

Dan pada kesempatan pemilu 2019, beliau kembali mencalonkan diri menjadi Caleg dari PAN No.urut 2 di Dapil Bengkulu. Fokus beliau di dunia pendidikan, ekonomi kreatif dan pariwisata. Tentunya ketiga hal tersebut beliau fokuskan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat Bengkulu. Mendapatkan amanah menjabat selama 2x menjadikan beliau semakin fokus dan bersemangat untuk menjadi wakil Bengkulu. Pengalaman beliau menjadi jembatan aneka program pemerintah pusat ke daerah menjadikan beliau semakin yakin bahwa beliau harus terus bekerja untuk kemajuan Bengkulu.


Senin, 07 Oktober 2013

Surat Suara Untuk Simulasi Pemilu


Ini surat suara yang tim DCC gunakan dalam simulasi pemilu dalam Workshop Pengenalan Parlemen Untuk Pemula. Kalau kamu jadi peserta pemilunya, pilih siapa? Ayo jujur saja. Dalam teori komunikasi, 10 detik pertama, katanya menentukan. Nah, kalau melihat surat suara di atas. Pilih mana? Pilih yang good looking? Kalau pemilihnya pakai teori itu, pasti banyak yang minta difoto ulang.

Nah, memilih wakil kita di parlemen, tentu tak sama seperti memilih Indonesian Idol. Masa depan kita, ditentukan oleh mereka yang punya integritas, komitmen, kapasitas, dan visi. Maka semestinya pada merekalah harapan itu kita sematkan. Kalau berdasarkan kecantikan? Wah, beautiful only skin deep, bahasa Kaurnya. :)

Yuk, kenali track record wakil kita. Siapa dia, dari mana asalnya, apa kiprahnya selama ini di daerah kita. Sso, jangan beli kucing dalam karung. 



Kab. Kaur; Baju Satu Kering Di Badan :)

Maksudnya? Pasti itu yang terlintas di benakmu kan? Kalau ada yang berpikir, "... Seperti lagu dangdut", artinya mereka lahir di tahun 1970 atau 80-an, lah, jadi udah bukan pemuda. Tapi its ok, yang penting semangatnya pak. :) 

Baju Satu Kering Di Badan

Hari itu, 29 September 2013 di Kab Kaur. Hujan deras datang menemani pagi. Saya pun sempat ragu, dengan kondisi demikian, mungkinkah peserta akan datang? "Sudah jauh, hujan pula," pikir saya. Hmm, hujan kan ketetapan Tuhan. Dalam Al-Qur'an pun hujan selalu diidentikkan dengan keberkahan. Jadi, saya hanya bisa bersabar sembari berdoa dan berharap.

Tak disangka, satu, dua, empat, sepuluh, dan seterusnya hingga 100 orang lebih berdatangan dengan baju basah. Inilah generasi yang tak ingkar janji. Mereka tetap berjuang meski berbasah-basah ria. Bahkan ada salah seorang peserta yang terjatuh dari motor karena jalanan licin. Saya bahagia dan bangga.  Meski dengan pakaian basah, mereka tetap antusias mengikuti workshop. Ya, baju satu kering di badan. Nah, sudah pahamkan, kenapa judulnya seperti di atas. :)







Bengkulu Selatan; Sejarah I, Surat Suara

Ini pelatihan ke-3, setelah dua pelatihan sebelumnya di Kota Bengkulu. Kali ini, kami menggunakan Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkulu Selatan, sebuah tempat yang terbilang sederhana. Sebenarnya, jika dipelihara dengan baik, tempat ini bisa bernilai rupiah yang tinggi, jika disewakan. Tapi sudahlah, itu satu soal. Saya hanya berdoa serius, "Semoga tak hujan," Kini, tantangannya bagaimana menyulap kesederhanaan ini menjadi momentum yang memewahkan. Ya, mewah karena kesan yang mendalam.

Happy instrumental menyambut kedatangan satu per satu siswa SMA di Bengkulu Selatan. Sesi dimulai, tak banyak respon dari mereka. Wah, apa bahasanya terlalu tinggi ya? Hmm, ternyata hanya soal waktu. Pada saat sesi simulasi, ternyata antusian dan kreativitas siswa di sini tak kalah dengan mahasiswa di Kota Bengkulu. Alhamdulillah

Di Pelatihan inilah, kertas suara pemilihan, pertama kali kami gunakan. Sebuah ide spontan, yang hadir dengan H2C (Harap-harap cemas), karena printernya lamban. Tapi akhirnya semua bisa teratasi. Sesi pengnalan pemilu ini dijamin lebih Ok, dari sosialisasi ala KPU sekalipun. Kami mensimulasikan bukan soal teknis semata, tetapi strategi. "Anak-anakku, coba lihat siapa yang menang? Ini pelajaran. Biasanya di satu keluarga, kita berbagi dukungan untuk beberapa calon, supaya adil. Dampaknya, tak satupun terpilih. Seperti simulasi ini, yang menang adalah yang mendapat dukungan penuh dari kelompoknya plus dukungan dari orang-orang dari kelompok lain." Dengan dukungan yang terfokus, lebih memungkinkan untuk menghasilkan terpilihnya wakil yang kita inginkan.  Tentu, yang berintegritas, berkomitmen, dan berkapasitas.  










Sabtu, 25 Mei 2013

Yuk, Kenalan Dengan Parlemen

"Tolong fasilitator jelaskan sedikiiit aja, parlemen itu apa?" pinta Bambang, salah seorang peserta Workshop dalam sesi pemetaan persepsi. Lihat tu, huruf i-nya, saya tulis tiga kali lho, artinya ini permintaan yang tulus dan serius :)

Tapi, fasilitator cuma bilang, "Tulis aja apa menurut pendapatmu," Betul juga, kalau dijelaskan nanti persepsi awalnya jadi berubah. Padahal kami ingin mendapatkan persepsi tentang parlemen yang benar-benar genuine dari peserta.

"Parlemen? Ooo begitu.."

Setelah makan siang, sesi pengenalan parlemen pun dimulai. Biasa, abis makan siang enaknya apa? Tidur! Coba lihat gambar di atas. Hehe, ayo hitung berapa orang yang lengannya di dagu? Makanya, jam segini harus kreatif nih. Jam harimau bagi narasumber! Halo!"

Mana suaranya!
Masih ngantuk? Gak, kan? Nah, sekarang saatnya merefresh persepsi tentang parlemen. Ayo ingat kembali, kata-kata yang tertulis di metaplan. Secara umum, persepsi itu mewakili dua pandangan.

Yang pertama adalah Political Disaffection (Ketidakpuasan Politik)


  Yang kedua adalah Political Efficacy (Keberhasilan/Kepuasan Politik)

 

Coba ingat lagi, persepsi kalian pada parlemen pun tidak lepas dari dua pandangan di atas.

Nah, tak kenal maka tak sayang. Political disaffection bisa jadi disebabkan karena tak kenal. Untuk itulah, menjelaskan parlemen kepada publik, termasuk mahasiswa, menjadi penting. "Ssst, hati-hati Bu, jangan-jangan setelah kenal jadi benci?" Hmm, bukan benci, tapi gemes pengen memperbaiki. Hehe. Memang semangat itu yang harusnya ada, bukan?

Ok, apa saja yang perlu kita ketahui dari parlemen? Oya, beberapa materi yang tidak sempat saya sampaikan di workshop bisa teman-teman lihat di sini.

1. Unsur-Unsur Parlemen
2. Fungsi Parlemen
3. Perspektif Terhadap Konstituen
4. Perspektif Terhadap Anggota Parlemen
5. Supporting System Parlemen
6. Cara Berpartisipasi Ke Parlemen


Pertama, Unsur-Unsur Parlemen

Unsur parlemen terdiri dari Fraksi dan Alat Kelengkapan. Fraksi itu sebenarnya kepanjangan tangan dari partai politik. Fraksi apa saja yang saat ini ada di DPR? Silakan klik dpr.go.id. Penting gak sih fraksi itu? Ya, jika mengacu pada fungsinya yang mengawasi kinerja anggota fraksi tersebut, jelas keberadaannya sangat diperlukan. Ayo ada yang protes, tapi kan gak jalan? Ya, mungkin saja untuk sebagian fraksi. Nah, kalau tidak jalan fraksinya donk yang diperbaiki, bukan dibubarkan. Betul tidak?

Selain Fraksi, ada juga Alat Kelengkapan. Alat Kelengkapan itu istilah lain dari Badan, Departemen, Bagian atau Divisi. Tujuan pembentukan Alat Kelengkapan ini untuk melaksanakan fungsi DPR (Legislasi, Anggaran, dan Pengawasan), manajemen internal DPR (Mengelola agenda lembaga, seperti rapat-rapat), relasi kelembagaan, dan mengatur urusan rumah tangga DPR. Misalnya, soal rumah dinas, berapa kebutuhan tenaga ahli, dsb. 
 
Apa saja Alat Kelengkapan DPR? Berikut daftarnya:



Kedua, Fungsi Parlemen

Secara umum, ada tiga fungsi parlemen. Pertama, fungsi legislasi. Legislasi secara sederhana didefinisikan sebagai pembuatan undang-undang. Proses membentuk undang-undang ini dilakukan bersama DPR dan Pemerintah/Presiden, dan harus mendapatkan persetujuan bersama. Ada dua tingkat pembicaraan RUU. Yuk, simak penjelasan di bawah ini
 

Ada yang ingin tahu, secara lengkap? Silakan klik Proses pembuatan UU. Oya, menurut kamu apa undang-undang yang saat ini kamu butuhkan? "UU A, UU B, UU C, dll" Biasanya pada semangat menjawab kalau ditanya begitu. Teman-teman, UU tidak selalu menjadi solusi atas sebuah persoalan. Mungkin saja solusinya di anggaran, atau di pengawasan, atau justru tidak memerlukan solusi dalam bentuk kebijakan, tetapi hanya kearifan hidup bersama. Nah, untuk mengetahui apakah sebuah persoalan patut diselesaikan melalui UU, bisa kita lihat dalam dokumen yang disebut Naskah Akademik.

Kedua, fungsi anggaran, yaitu fungsi menyusun dan menetapkan anggaran pendapatan dan belanja Negara bersama DPR dengan mempertimbangkan masukan DPD. Yang mau mendalami fungsi anggaran ini, silakan klik fungsi anggaran DPR RI

Ketiga, fungsi pengawasan kinerja pemerintah. Kalian pernah membaca di surat kabar, tentang Anggota DPR yang marah kepada pejabat pemerintah atau mengusir utusan pemerintah dalam sebuah rapat? Tampak mereka sangat berkuasa sekali, bukan? Ya, kondisi ini tentu berbeda dengan DPR zaman orde baru yang hanya dikenal dengan tukang tempel pemerintah. Itu sekilas aksi Anggota DPR dalam proses pengawasan.

Nah, pengawasan dimaksud adalah pengawasan terhadap pemerintah dalam menjalankan atau melaksanakan undang-undang. Fungsi pengawasan di DPR, dibebankan pada Komisi-Komisi, atau Panitia Khusus yang dibentuk untuk menyelidiki kasus tertentu. Komisi atau Panitia Khusus ini dapat memanggil pejabat tertentu guna mendapatkan penjelasan tentang kasus yang sedang diselidiki. Jika dirasa perlu, Komisi dapat membentuk tim kecil yang terdiri dari beberapa Anggota Komisi.

Penjelasan lebih lanjut hal ini bisa teman-teman dapatkan di Buku Parlemen Untuk Pemula. Klik  edisi pdf

Anggota parlemen juga memiliki kewajiban untuk menjalankan fungsi refresentasi (perwakilan), dimana ia memfasilitasi warga dan pemerintah atau pihak lain untuk menyelesaikan persoalan, konflik, atau membangun relasi positif. 

Pertanyaannya, persoalan apa sih yang relevan kita sampaikan ke parlemen? 

Ketiga, Perspektif Terhadap Konstituen

Ada satu yang penting bagi anggota parlemen dan yang mau jadi caleg, nih. Konstituen seharusnya  kita pandang sebagai manusia secara utuh. Kebutuhan mereka tidak hanya fisiologis atau materi, tetapi juga ada kebutuhan untuk dihargai dan beraktualiasi. Karena itu, kalau nanti jadi anggota parlemen, hubungan dengan konstituenmu jangan cuma karena program, ya.

Nah, ayo, ayo bersilaturrahmi ke konstituen kita...

Bersama Ibu-Ibu Aisyiah Kedurang Bengkulu. "Senyumnya Bu.. Ting!"

Ok? Jadi, jangan ada lagi  yang bilang gini: "Aduh, gimana ya,  gak ada program nih, nanti mereka minta bantuan, ngajuin proposal, aduh,"  Tapi kan konstituennya.. apa ngerti? Karena itulah diperlukan pendidikan politik dan introspeksi perilaku kita juga donk.


Sekali lagi, hubungan kita dengan konstituen jangan cuma relasi program.






Karena itu, kalau teman-teman jadi anggota parlemen, jangan sombong ya, jauh dari konstituen, atau bahkan menghindar.

Btw, kalau nanti jadi anggota parlemen, bisa kan membedakan mana konstituen yang sesungguhnya dan mana calo? Nah, kalau ada suka ngomong gini,  "Saya punya massa besar, ibu tenang aja, tapi mohon bantuan untuk biaya komunikasi," Sudahlah, kalau yang kayak gitu, dijelasin aja baik-baik, terus fokuslah pada konstituen kita yang sesungguhnya.

Keempat, Perspektif Terhadap Anggota Parlemen

Perspektif di atas, seharusnya dapat menyadarkan kita sebagai konstituen bahwa hubungan waga dan anggota tidak harus berdasar program atau uang. "Sedikit-sedikit minta uang, minta uang kok sedikit-sedikit" Hehe. Anggota parlemen adalah wakil kita yang memiliki kewajiban untuk memfasilitasi persoalan yang dihadapi.

Ingat lho, memfasilitasi. Jadi, kalau ada yang tidak mampu kuliah karena biaya mahal. Maka, sampaikan ke anggota parlemen, untuk dicarikan solusinya. Bisa jadi anggota akan menyampaikan hal ini ke Dinas terkait, ke kampus bersangkutan, ke perusahaan, atau ke pihak-pihak yang memiliki program beasiswa. Bukan minta uang ke anggota parlemen, karena mereka tidak memiliki anggaran untuk itu.

Kalau anggotanya mau ngasih secara pribadi? Ya, itu sifatnya sukarela. Tapi kalau tidak, jangan marah ya. Tugas mereka adalah memfasilitasi.

Selanjutnya, anggota DPR bukan pihak yang melaksanakan sebuah kebijakan. Tugas mereka mengusulkan, mengawasi pelaksanaan, dan melakukan evaluasi sesuai dengan tingkatannya. (kab/kota, provinsi, nasional). Jadi, kalau ada persoalan, jangan melakukan tindakan anarkis kepada anggota Dewan. Misalnya: mobilnya dirusak. "Kalau gitu, anarkisnya ke siapa donk," Hehe, ya janganlah. Kepada siapapun, tidak boleh. Justru persoalan itulah yang kita sampaikan kepada anggota parlemen sebagai bahan untuk melakukan fungsi pengawasan.

Kelima, Supporting System Parlemen 

Ini tak kalah menarik nih? Supporting system parlemen. Yang pengen tau bagaimana dukungan terhadap parlemen, bagaimana problemnya, dan yang mau jadi Tenaga Ahli. Ayo, simak data-data di bawah ini.




Jadi, supporting system parlemen itu ada di Anggota, di Fraksi dan di Alat Kelengkapan.  Ada yang berasal dari Setjend DPR, ada juga yang direkrut secara mandiri oleh DPR. Yang mau tau info lengkapnya, silakan hubungi dpr.go.id

Data-data di atas memberikan informasi bahwa anggota parlemen kita memiliki problem serius, yaitu minimnya dukungan tenaga ahli pada mereka, baik secara personal maupun kelembagaan. Inilah problem yang perlu segera diselesaikan. 

Keenam, Cara Berpartisipasi Ke Parlemen

Teman-teman, berpartisipasi ke parlemen itu, bisa disebabkan berbagai alasan.

1. Menyampaikan sebuah persoalan yang merupakan kepentingan pribadi atau komunitas tertentu.
2. Menyampaikan sikap kita atas sebuah persoalan. Misalnya rencana kenaikan BBM
3. Mengusulkan rancangan undang-undang

Ada yang mau menambahkan? Kalau sekadar jalan-jalan atau mau melihat-lihat bagaimana parlemen bersidang? Itu juga boleh, tapi namanya bukan partisipasi, ya wisata politik atau belajar-lah yang lebih tepatnya.   

Nah, bagaimana cara agar partisipasi kita tersalur secara efektif dan efisien? Berikut beberapa tips dari saya:

1. Upayakan memberi informasi secara utuh tentang apa yang ingin teman-teman sampaikan. Pake prinsip 5W1H. Apalagi kalau ada data-data, lebih bagus lagi
2. Cari anggota DPR yang berasal dapil tersebut, jika menyangkut persoalan di satu komunitas
3. Tentukan komisi apa di DPR yang terkait dengan persoalan tersebut
4. Cari partai/fraksi yang lebih relevan dengan issu tersebut. Tentu bisa saja satu persoalan teman-teman sampaikan kepada beberapa anggota parlemen. Ini bukan masalah.
5. Usahakan untuk bersinergi dengan anggota parlemen di tingkat kab/provinsi dan nasional, sehingga dorongannya lebih kuat.
6. Buat surat pembaca, buat release ke media, dan manfaatkan media sosial.
7. Jangan lupa untuk mengonfirmasi kepada Anggota bersangkutan secara berkala, melalui beragam jalur komunikasi (Telp, HP, email, twitter, fb, web, surat, dll)

Oya, mungkin teman-teman nanya, bagaimana jika calon pilihan kita gagal? Apakah kepentingan kita bisa diperjuangkan melalui anggota DPR lain? Bisa. Ketika seseorang terpilih menjadi anggota DPR, maka dia menjadi wakil dari seluruh masyarakat di dapil tersebut. Karena itu, tidak benar jika si A yang terpilih mewakili daerahmu, tidak memperhatikan kepentinganmu hanya karena kamu bukan pemilihnya. Maka jangan pernah ragu untuk menyalurkan aspirasimu pada anggota DPR yang mewakili daerah pemilihanmu, siapapun itu.

"Berarti saya boleh menyampaikan aspirasi saya ke Ibu Dewi? Tapi saya gak milih Ibu dulu...," Nah, ketahuan deh. Hehe.. Ya, gpp. Silakan sampaikan di kolom  "Tulis Aspirasi"

Yang pengen dapat materi workshop, termasuk e-book, magang di parlemen, silakan tulis nama, email, no HP, pada kolom di bawah ini.

Semoga bermanfaat.

Serunya Bikin Partai

Saya bersama peserta workshop, antri ya...
Karena sesinya pengenalan partai politik, saya menyempatkan diri berphoto bersama pengurus partai. Hehehe, bukan mereka bukan pengurus partai. Becanda, becanda, becanda! Mereka adalah mahasiswa peserta Workshop Pengenalan Parlemen Untuk Pemula. Ya, almamaternya sih mirip warna PPP atau PKB. Tapi serius ini adalah peserta workshop. Kalau soal gaya, hmm bolehlah, sudah mantap untuk jadi caleg :)

Ada tiga tahap proses pengenalan partai politik dalam workshop ini.

Pertama: Pemetaan persepsi terhadap partai politik
Kedua: Penjelasan dan diskusi tentang partai politik
Ketiga: Simulasi

Yuk, kita bahas satu per satu

Pertama: Pemetaan persepsi terhadap partai politik

Seperti biasa, negatif selalu mendominasi persepsi peserta. Nah, ada satu kata yang cukup menarik perhatian. Coba cari, tulisannya yang paling kecil. Ketemu? Aha! Ya, kekuasaan. "Kekuasaan", kata itu tertulis di kertas metaplan. Terselip di antara sejumlah persepsi negatif tentang partai politik. Yup, peserta workshop menempatkannya dalam kategori negatif.

Persepsi peserta tehadap partai politik

Kata kekuasaan sejatinya netral. Tetapi pengalamanlah yang menyemayamkan rasa negatif itu di alam bawah sadar kita. Dalam bahasa Indonesia, kata yang mengalami degradasi nilai ini disebut kata bermakna peyoratif. Masih ingatkan, pelajaran kelas IV SD? Lupa. Serius? Cara pengajarannya mungkin gak attraktif. Beda donk dengan workshop pengenalan parlemen untuk pemula, 100 % full fun!

Namanya persepsi, itu adalah hak peserta. Jadi, jangan takut untuk menuliskan apa saja. Ayo, ayo, ayo!

Peserta membacakan persepsi mereka

Kedua, ceramah dan diskusi tentang partai politik

Apa saja dibahas terkait partai politik dalam workshop ini?

Saya menjelaskan tentang fungsi partai politik

Pilihlah partai saya? Oh, sama sekali tidak. Ini bukan ajang kampanye, tapi wadah pendidikan politik. Kalau mau memilih, ya itu hak Anda. Masa' saya larang-larang, hehe.

Ok, kembali ke jalan yang benar. Apa yang dipelajari? Pertama, definisi. Ada berbagai definisi dari para pakar maupun menurut undang-undang. Dari semua itu, unsur utama dari partai politik adalah kekuasaan. Jadi, partai politik memang diciptakan untuk meraih kekuasaan (secara konstitusional). Kalau sekadar cari teman banyak, gabung aja ke komunitas jantung sehat atau komunitas supporter PS Bengkulu. :) Apa kabar tim kesayangan kita itu?

Kedua, fungsi. Secara teori, minimal ada 4 fungsi partai politik. Googling aja ya. Nah, daripada berteori, coba teman-teman sebutkan apa saja manfaat keberadaan partai politik, yang kalian rasakan atau lihat sendiri.

Mungkin di bawah ini salah satunya.

1. Bagi-bagi sembako
2. Pengobatan gratis
3. Penyedia jasa ambulans
4. Bagi-bagi duit
5. Menyampaikan informasi melalui spanduk-spanduk
6. Menyediakan kandidat calon presiden, gubernur, walikota, bupati, dan caleg
7. Ngajak gabung dalam kegiatan partai dan jadi anggota

Jenis kegiatan seperti pada nomor 1 sd 3 (Bagi-bagi sembako, pengobatan gratis, penyedia jasa ambulans) atau sejenisnya, bukanlah fungsi partai politik. Itu merupakan nilai tambah, jika landasannya adalah ketulusan & keinginan berbagi dengan sesama. Sementara dalam ilmu branding, ia biasa disebut sebagai kegiatan pencitraan berbasis public relation. 

Bagaimana dengan kegiatan nomor 4 (bagi-bagi duit)? Lagi-lagi bukan fungsi partai politik. "Kalau pimpinannya bagi-bagi zakat?" Ok-lah, tapi yang ikhlas donk, gak  pake "udang" di balik uang. Nah, yang gak pas, tapi justru kadang dinikmati sebagian masyarakat adalah bagi duit menjelang pilkada. Jelas, itu money politics. Ingat, tidak ada partai yang merestui perilaku kandidatnya yang seperti ini, itu oknum.

Workshop, bagian dari pendidikan politik
Kegiatan nomor 5 (Menyampaikan informasi melalui spanduk-spanduk), salah satu jenis komunikasi politik. Ini fungsi partai politik. Partai menjadi perantara yang menyampaikan program partai itu sendiri, program parlemen, atau pemerintah kepada konstituen, dan sebaliknya. Misalnya, bunyi spanduknya begini: "Segera Dapatkan Kartu Bengkulu Sehat Tanpa Syarat. Manfaatkan Untuk Berobat Gratis di Seluruh Puskesmas". Ini program pemerintah. Partai politik dapat membantu mensosialisasikannya ke konstituen mereka. Ok? Bagaimana kalau spanduknya buuesar sekali, terus kalimatnya: Selamat Idul Fitri 1434 H. Mohon Maaf Lahir & Bathin. Hehe, yang kayak gini yang jawab aja dalam hati, "Saya maafkan," :)

Kegiatan nomor 6 (Menyediakan kandidat calon presiden, gubernur, walikota, bupati, dan caleg), itu merupakan salah satu fungsi partai politik. Tugas kita adalah memastikan bahwa kandidat yang diusung oleh partai tersebut benar-benar berintegritas, komitmen pada warga di daerah kita, dan memiliki kapasitas. Caranya? Gampang! Lihat track recordnya.

Kegiatan nomor 7 (Ngajak gabung dalam kegiatan partai dan jadi anggota), juga merupakan fungsi partai politik. Biasanya disebut fungsi rekutmen dan kaderisasi. Ada satu hal yang kerap merusak fungsi ini di partai, yaitu contoh perilaku orang-orang di atasnya atau para seniornya. Ini serius, kader yang militan itu bergerak atas dasar ideologi partai, tak terpengaruh pada perilaku orang lain, juga tidak menjadi loyalist atau evangelist pada satu individu tertentu. Dan masih ada fungsi-fungsi partai lainnya, seperti manajemen konflik.

Hal lain yang juga penting adalah bagaimana berpartisipasi dalam kegiatan partai politik.

Bentuk-bentuk partisipasi politik

Tapi kita akan bahas ini lebih mendalam, di waktu yang akan datang ya. Ada yang penasaran, bagaimana kalau partai hanya fokus pada kekuasaan, tetapi fungsi-fungsi tadi tidak dilakukan?

Ya, karena itulah kita harus menjadi warga yang cerdas untuk memilih dan memilah. Jika partai abai pada fungsi itu, lihatlah pada individu anggotanya. Jika anggotanya juga abai, mungkin itu cuma oknum. Tapi jika semua anggotanya juga abai? Apa yang bisa diharapkan? Saatnya anda menentukan pilihan yang bertanggungjawab atau mengapa tidak teman-teman menjadi bagian dari partai politik itu sendiri. Tentu bukan untuk menambah masalah, namun menjadi solusi atas masalah yang ada.

Pertanyaan lain, sampaikan aja pada kolom komentar di bawah ini. "Dijawab ya Bu?" Iya, iya, insya Allah saya jawab. Ini kan juga bagian dari fungsi partai. Ayo fungsi apa? Fungsi pendidikan politik :)

Ketiga, simulasi pembentukan partai politik, kampanye, pemilu, dan penetapan hasil

Nah, ini yang paling seru. Peserta yang telah dibagi dalam enam kelompok tadi, diminta untuk membentuk partai politik (lengkap dengan visi-misi, logo, tagline, yel-yel). Lalu apa tugas mereka, selanjutnya?


Tujuan dari simulasi ini adalah:

1. Peserta dapat merasakan bagaimana proses pembentukan partai politik
2. Peserta memahami proses dalam tahapan-tahapan pemilu
3. Peserta dapat merasakan bagaimana suasana kompetisi partai dalam proses pemilu
4. Peserta dapat mereflesikan/mengambil pembelajaran terhadap realitas partai politik yang tergambar selama simulasi.

Yuk, kita lihat dulu, serunya simulasi peserta...

 
  

"Apa nih, visi-misi partai kita?" Sesuaikan dengan ideologi ya....
Setelah membentuk partai politik, peserta kemudian memulai kampanye menyampaikan visi-misi, dan program. Yang gak kalah seru, yel-yelnya itu lho... Hehe, ada yang narsis abis, terus sampai merendahkan partai lain segala. Tapi, sesuai gak ya, semua itu dengan ideologi partai mereka?

Ideologi itu secara sederhana menggambarkan kondisi apa yang diinginkan partai pada suatu saat nanti, baik terhadap kondisi partai (biasa disebut visi internal), maupun terhadap daerah yang diperjuangkannya. Misalnya, pada tahun kelima, kami menginginkan Bengkulu menjadi provinsi yang .... Ini biasa disebut visi eksternal. Selain itu, ideologi juga menggambarkan misi partai, program dan pilihan konstituen, yang menjadi prioritas mereka.

Sekarang, kita lihat aksi mereka saat kampanye.


Ssstt, tau gak siapa MC-nya saat kampaye? Itu saya :)

Wah, meriahnya gak kalah dengan partai-partai beneran. Programnya? Ya, mirip juga. Lalu apa bedanya? Hmm, nanti dulu ya jawabannya. Kan belum masuk sesi refleksi? Hehe..

Setelah 6 partai berkampanye, selanjutnya, pengajuan calon walikota-wakil walikota. Mereka boleh diajukan oleh satu partai atau gabungan partai.

Dan akhirnya, dari 6 partai yang ada, terpilihlah dua pasang calon.

Pasangan Calon Walikota-Wakil Walikota I (Disusung 4 partai)

Pasangan Calon Walikota-Calon Walikota II (Diusung 4 partai)
Pengambilan Nomor Urut Pasangan

Ok, yang mau komentar silakan aja. Bagaimana, sudah pas gak, jadi walikota Bengkulu? Hehe.

Ok. next event is debat kandidat. Setiap pasangan disodori satu pertanyaan yang sama:

"Apa yang akan Saudara lakukan terhadap objek wisata pantai panjang Bengkulu yang saat ini mulai berubah fungsi menjadi tempat xxx ?
Aksi Satpol PP menertibkan warung remang-remang di Pantai Panjang Bengkulu

Apa jawab mereka?

Penasaran ya. Tunggu dulu. Sebelumnya saya perlu jelasin, kalau gambar Satpol menertibkan warung remang-remang di atas itu, bukan simulasi, itu beneran. Ada komentar? Ya, silakan.

Saya lanjutkan lagi, soal jawaban calon walikota. Pasangan nomor urut I, diusung oleh partai-partai nasional religius ngasih jawaban gini: "Kami akan berantas kemaksiatan. Pantai panjang harus kembali pada fungsinya sebagai objek wisata,"

Sementara pasangan nomor urut II, mengatakan, "Pantai panjang harus tetap dipertahankan, karena menjadi sumber penghidupan banyak warga,"

Setelah masuk sesi tanya jawab antar kandidat, ternyata nyambung tuh dua pasangan. Mereka sama-sama ingin mempertahankan Pantai Panjang sebagai objek wisata. Sedangkan perilaku negatif yang terjadi di sana, harus dihentikan. Jadi, apa bedanya? Simple saja, pilihan penekanan issu dan bahasa.

Pasangan I, karena diusung partai-partai religius, maka titik tekan dan pilihan bahasanya adalah menghapus kemaksiatan. Sebuah istilah yang mencerminkan visi partai.  Sementara pasangan II, yang diusung partai-partai sekuler, memilih "Mempertahankan pantai panjang, karena menjadi sumber penghasilan warga," Sebenarnya maksudnya sama, tetapi untuk menciptakan differensiasi, pilihan kalimat itu sangat tepat. 

Jadi? Cukup bagus.

Pemilihan

Tiba saatnya pemilihan....

Karena waktu yang terbatas, saya meminta peserta untuk melakukan pemilihan secara terbuka. "Semua peserta bebas memilih. Pilihanmu boleh berbeda dengan keputusan partai," begitu instruksi saya berkali-kali lho.

Hasilnya?

Tak disangka. Mereka solid. Kok bisa? Entah! Akhirnya yang menang calon yang diusung 4 partai. Selamat ya :). Eh, maaf, Bapak Walikota yang memberikan pidato kemenangan lupa difoto! Hehe.

Refleksi

Di balik serunya simulasi ini, ada beberapa hal yang patut direfleksikan:

1. Pembentukan partai politik

Partai politik perlu memiliki kejelasan ideologi. Inilah yang menjadi landasan geraknya. Fasilitator memberikan ideologi yang berbeda-beda pada keenam partai, untuk menghidupkan suasana dan menarik lebih banyak pembelajaran. Seandainya sama, bisa kurang seru karena perbedaan satu sama lain potensial tidak terjadi. Jika pun semua ideologi sama, partai perlu membedakan diri dengan partai lainnya dalam hal program. Kalau program ternyata sama, partai harus membedakan dengan "menjual" integritas, komitmen, dan kapasitas calon-calon yang mereka usung. Eh, ingat gak, yang terakhir ini dilakukan oleh beberapa partai saat kampanye. Mereka memperkenalkan siapa ketua dan biodata singkatnya.


2. Proses dalam tahapan-tahapan pemilu

Dengan simulasi ini, peserta memahami tahapan-tahapan pemilukada secara umum. Pelajaran apa yang dapat dipetik? Partai berpotensi terjebak dalam lingkaran demokrasi prosedural. Yang namanya lingkaran, ya berputar di situ-situ aja. Dari pemilu ke pemilu berikutnya, sibuk menentukan caleg, calwakot, cagub, dst. Dalam lingkaran kesibukan ini, ada hal penting yang potensial terabaikan oleh partai, yaitu kaderisasi internal dan pendidikan politik bagi warga. Pendidikan politik, kegiatannya antara lain seperti yang kita lakukan dalam workshop ini, memahamkan apa itu partai politik, pemilu, parlemen, fungsinya, serta bagaimana berpartisipasi.  

3. Suasana kompetisi partai

Sadar atau tidak, suana kompetisi antar kelompok yang teman-teman praktikkan itu, hampir sama dengan apa yang terjadi di dunia politik sesungguhnya. Ketika suara menjadi faktor penentu utama, kadangkala terjadi kompetisi tidak sehat bagi partai dan warga namun dimaklumi bersama. Misalnya politik uang, koalisi tanpa memperhatikan ideologi atau visi, lebih suka menjelek-jelekkan partai lain ketimbang menonjolkan kelebihan partainya, berupaya mempengaruhi pemilih dengan cara-cara yang tidak tepat. Kalau disimulasi ini, misalnya dengan kenceng-kencengan suara saat yel-yel, pada praktik sungguhan, misalnya dengan survey pesanan, supaya calonnya terlihat dapat dukungan luas, dll.


4. Kontribusi kita?

Nah, dari berbagai refleksi yang masih bisa ditambah itu, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, ikut memberikan saran dalam perbaikan sistem dan regulasi di partai politik, pemilu, dan parlemen.

Kedua, ikut berpartisipasi dalam partai politik untuk tujuan yang benar.

Ketiga, menjauhi praktik politik yang tak sehat selama ini, misalnya memilih karena uang atau ikut-ikutan semata.

Keempat, mempersiapkan diri dengan menjaga integritas sejak dini dan belajar yang serius untuk membangun profesionalitas dalam satu bidang tertentu. Misalnya, saya sebagai politisi dan juga profesional di bidang dokter hewan. Seorang anggota parlemen, perlu memiliki keahlian dalam issu tertentu untuk mendukung tugas-tugasnya dan memudahkan fraksi menempatkannya di Komisi yang sesuai. Jadi, kalau dokter hewan, memang pas di Komisi IV. Betul tidak? ;)

Kelima, ikut menjadi bagian komunitas yang membangun perspektif baru tentang politik yang benar. Komunitas itu bisa berupa BEM kampus, organisasi ekstra, atau di Dewi Coryati Center :)

Last but not least, DCC sendiri saya dirikan sebagai bagian dari upaya memassifkan pendidikan politik. Menurut saya, ini kewajiban anggota partai dan anggota parlemen. That's the point!


Semoga bermanfaat.

Tetap semangat teman-teman


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code